PATROLI SUKABUMI.CO.ID—Hari Minggu
tanggal 23 Agustus 2026. Di tengah kabar duka yang menyelimuti
masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat bencana gempa bumi, sebuah pesan
kemanusiaan justru mengalir dari tanah Pasundan. Komunitas Flobamorata NTT
menunjukkan bahwa solidaritas tidak boleh mengenal batas wilayah, suku, budaya
maupun kondisi. Rekam jejak digital pada 22 Agustus 2026, Di
tengah kabar duka gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur, komunitas warga
NTT ini tetap menyempatkan diri menyambangi dan membantu korban musibah
kebakaran di Kasepuhan Ciptamulya, Kabupaten Sukabumi.
Mereka menyalurkan bantuan logistik serta donasi hasil
penggalangan dana kepada warga terdampak. Selain meringankan beban materiil,
kehadiran IPFP menjadi suntikan moril berharga bagi para korban yang kehilangan
tempat tinggal. Flobamorata NTT hadir di tengah warga terdampak kebakaran di Kasepuhan
Ciptamulya, Kabupaten Sukabumi. Mereka menyerahkan bantuan hasil penggalangan
dana dari berbagai pihak sekaligus memberikan dukungan moril kepada para korban
yang tengah menghadapi masa sulit.Kehadiran tersebut bukan sekadar soal
bantuan. Ini adalah pesan tegas bahwa ketika manusia sedang jatuh, kepedulian
tidak boleh ikut padam.
Dalam kesempatanya Ketua Flobamorata, Metu Holbala, mengatakan
“ Bahwa musibah tidak boleh membuat manusia kehilangan rasa persaudaraan, kami
pun ingin menunjukkan bahwa kepedulian tidak boleh berhenti, karena penderitaan
manusia adalah urusan kita Bersama.Pertemuan Flobamorata NTT dengan masyarakat
Ciptamulya pun menjadi lebih dari sekadar agenda sosial. Di sana bertemu dua
latar belakang budaya yang berbeda, tetapi disatukan oleh nilai yang sama.Kemanusiaan
dan persaudaraan.Flobamorata dan Pasundan mungkin memiliki akar budaya, bahasa
dan tradisi yang berbeda. Namun perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi
tembok pemisah. Justru keberagaman harus menjadi jembatan untuk membangun
kebersamaan.”Katanya
Lebih lanjut Metu menambahkan “Bagi korban kebakaran di
Ciptamulya, bantuan yang diberikan tentu tidak serta-merta menghapus seluruh
kesedihan akibat musibah. Tetapi kehadiran, uluran tangan dan dukungan moril
dapat menjadi kekuatan bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit seorang diri.Begitu
pula bagi masyarakat NTT yang tengah menghadapi bencana alam. Aksi Flobamorata
di Sukabumi menjadi pesan bahwa NTT tidak sendiri dan persaudaraan tetap hidup
meski jarak memisahkan kami berada ditanah pasundan.”Tambahnya.
Sementara itu Tokoh Ciptamulya Abah
Hendrik mengatakan” Bahwa Ini Bukan Sekadar Bantuan, Tetapi Jembatan
Persaudaraan.Kehadiran Flobamorata NTT mendapat sambutan hangat dari Tokoh
Kesepuhan Ciptamulya, yang didampingi Jaro Iwan.Saya mengapresiasi kepedulian
Ikatan Persaudaraan Flobamorata NTT–Pasundan (IPFP), terutama karena gerak
organisasi tersebut tidak hanya berkutat pada persoalan sosial, tetapi juga
adat, budaya dan kemasyarakatan.Apalagi gerak IPFP terfokus pada adat dan
budaya. Sehingga kunjungan ini bukan sekadar soal bantuan sosial, tetapi
memiliki makna yang lebih besar karena dapat menjadi jembatan yang
mempertemukan masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda.”Kata Abah
Hendrik.
Lebih jauh Abah Hendrik menegaskan “ Bahwa Masyarakat Kasepuhan Ciptamulya menyambut baik
keberadaan IPFP dan melihat kehadiran tersebut sebagai awal dari lahirnya
persaudaraan baru.Jelas kami Masyarakat Kasepuha Ciptamulya sangat menyambut
baik dan mendukung hadirnya Ikatan Persaudaraan Flobamorata NTT–Pasundan. Kami
merasa memiliki saudara baru.Saya juga mengingatkan agar hubungan tersebut
jangan berhenti ketika kegiatan bantuan selesai. Silaturahmi tidak boleh
menjadi seremonial sesaat.Saya berharap komunikasi dan kolaborasi antara IPFP
dengan masyarakat Ciptamulya terus dikembangkan melalui kegiatan sosial, adat,
budaya, keagamaan maupun kemasyarakatan.Jangan sampai silaturahmi ini hanya
terjadi hari ini. Kami berharap ke depan komunikasi dan kebersamaan ini terus
berjalan. Kita bisa membuat kegiatan sosial, budaya, keagamaan maupun kegiatan
kemasyarakatan secara bersama-sama. Kami juga membuka ruang kolaborasi antara
IPFP dengan Paguyuban Prabu yang berada dalam lingkungan 14 Kesepuhan.”Tegasnya
Saya menilai perbedaan latar belakang bukan alasan untuk
saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila dibangun
dengan rasa saling menghormati dan kepedulian.Mudah-mudahan IPFP semakin besar,
semakin bermanfaat dan semakin dekat dengan masyarakat. Kami dari Ciptamulya
siap membuka pintu silaturahmi dan membangun kolaborasi Bersama.Apa yang
terjadi di Kasepuhan Ciptamulya mungkin terlihat sederhana. Tidak ada panggung
besar, tidak ada kemeriahan, dan tidak ada sekat antara pemberi dan penerima.Yang
hadir hanyalah manusia yang sedang berusaha menguatkan manusia lainnya.”Pungkasnya.
Terpantau awak media,Di tengah sebagian saudara di NTT yang
sedang menghadapi musibah, masyarakat Flobamorata di Sukabumi justru memilih
menyalakan api kepedulian di tengah warga Kasepuhan Ciptamulya yang terdampak
kebakaran.Pesannya sederhana, tetapi kuat merajut persaudaraan.Flobamora dan
Pasundan adalah saudara tanpa ikatan lahiria.Karena persaudaraan bukan sekadar
soal berasal dari daerah yang sama. Persaudaraan adalah keberanian untuk hadir
ketika orang lain membutuhkan, kesediaan mengulurkan tangan ketika sesama
sedang terjatuh, dan ketulusan untuk tetap peduli meskipun diri sendiri sedang
menghadapi ujian.Dari Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi, kemanusiaan kembali
mengingatkan: berbeda budaya bukan alasan untuk berbeda kepedulian.*(GUNTA)









