terkini

Menjelang Musda Golkar Kab Sukabumi Memanas, Isyu Aklamasi Picu Kekhawatiran Melemahnya Demokrasi Internal

Patroli Sukabumi
, Kamis, Agustus 06, 2026 WIB Last Updated 2026-08-06T08:56:34Z




PATROLI SUKABUMI.CO.ID—Hari Kamis tanggal 6 Agustus 2026. Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Golkar Kabupaten Sukabumi, suhu politik internal kian memanas. Berakhirnya era kepemimpinan Ketua DPD Golkar Kab Sukabumi Marwan Hamami yang seharusnya menjadi momentum regenerasi justru dibayangi isu aklamasi yang dinilai berpotensi “membunuh” ruang demokrasi kader.Di tengah dinamika tersebut, Aktivis Pergerakan Cicurug sekaligus sesepuh Partai Golkar, JA Soebagiyo, angkat suara keras. Ia menilai arah proses pergantian kepemimpinan mulai menunjukkan gejala tidak sehat dan sarat kepentingan kelompok.

 

Dalam kesempatanya Aktivis Pergerakan Cicurug yang juga sesepuh partai Golkar JA Soebagiyo memaparkan “Saya melihat adanya dorongan wacana aklamasi yang muncul bahkan sebelum seluruh tahapan demokrasi internal berjalan. Ini berbahaya, karena bisa memunculkan persepsi bahwa ruang kompetisi kader sengaja dipersempit. Bahwa Musda bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan arena pertarungan gagasan, kapasitas, dan integritas kader. Jika proses tersebut digiring menuju satu nama sejak awal, maka substansi demokrasi internal Partai Golkar dipertaruhkan Jangan sampai Musda berubah menjadi panggung legitimasi yang sudah ‘diatur’. Semua kader yang punya kapasitas dan rekam jejak harus diberi ruang yang sama. Kalau tidak, ini bukan demokrasi, tapi skenario.”Papar Soebagiyo kepada awak media.

 

Lebih jauh Soebagiyo menegaskan “ Saya juga mengkritik keras maraknya klaim dukungan sepihak yang beredar di ruang publik. Ia menilai, klaim tersebut lebih bernuansa propaganda daripada cerminan kekuatan riil di internal partai.Kalau memang merasa kuat, buktikan di forum resmi Musda. Bukan dengan membangun opini seolah-olah sudah menang sebelum bertanding. Ini berpotensi memecah soliditas partai.Saya mengingatkan bahwa kekuatan Partai Golkar selama ini lahir dari tradisi musyawarah dan kompetisi yang sehat, bukan dari praktik penggiringan opini atau konsolidasi semu yang mengabaikan mekanisme organisasi.Masa transisi pasca Marwan Hamami, merupakan ujian nyata bagi kedewasaan politik kader Golkar Sukabumi. Jika tidak dikelola secara bijak dan demokratis, maka potensi konflik dan fragmentasi di tubuh partai tidak bisa dihindari.Jangan sampai proses ini meninggalkan luka politik. Saya punya sejarah panjang di Golkar Sukabumi, dan saya tidak ingin melihat demokrasi internal dirusak oleh kepentingan jangka pendek. Siapa pun yang terpilih harus lahir dari proses yang bersih, terbuka, dan legitimate.”Tegasnya.

 

Saya pun mengingatkan seluruh jajaran pengurus dan kader agar tidak terjebak dalam manuver politik sesaat yang justru merusak fondasi organisasi.Soliditas Golkar itu harga mati. Perbedaan pilihan itu biasa, tapi memaksakan kehendak dengan cara-cara yang mencederai demokrasi adalah ancaman serius. Musda ini bukan sekadar memilih ketua, tapi menentukan arah dan marwah Partai Golkar Kabupaten Sukabumi ke depan.”Pungkas Soebagiyo. *(Pajar Rahayu)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Menjelang Musda Golkar Kab Sukabumi Memanas, Isyu Aklamasi Picu Kekhawatiran Melemahnya Demokrasi Internal

Terkini