PATROLI SUKABUMI.CO.ID—Hari Selasa
tanggal 16 Juni 2026 bertempat dilokasi di kawasan Tugu Adipura, Jalan
R.E. Martadinata, Kota Sukabumi. Dewan Pimpinan Cabang (DPC)
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sukabumi Raya menggelar aksi Mimbar
Rakyat .Aksi tersebut menjadi wadah penyampaian aspirasi sekaligus kritik
terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai belum mampu menjawab
persoalan mendasar masyarakat.Sejumlah peserta aksi tampak membawa poster
berisi pesan-pesan kritik serta membentangkan spanduk bertuliskan “Pemimpin dan
Birokrasi Negara Gagal”. Massa juga melakukan pembakaran ban sebagai bentuk
simbolik atas kekecewaan terhadap kondisi bangsa yang dinilai tengah menghadapi
berbagai tantangan di bidang ekonomi, sosial, dan politik. ( Senin
sore-15/6/2026)
Terpantau awak media ,Dalam orasi dan pernyataan sikap yang
disampaikan di hadapan peserta aksi, GMNI menilai Indonesia sedang menghadapi
persoalan yang kompleks. Mulai dari tekanan ekonomi akibat melemahnya nilai
tukar rupiah, meningkatnya beban anggaran negara, ancaman kenaikan harga
energi, hingga tingginya angka pengangguran yang berdampak langsung terhadap
kehidupan masyarakat.Menurut mereka, kondisi tersebut menunjukkan bahwa
ketahanan ekonomi nasional masih rentan terhadap berbagai gejolak global. Di
sisi lain, peningkatan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup masyarakat dinilai
semakin memperberat beban kelompok berpenghasilan rendah maupun kelas menengah.
GMNI juga menyoroti arah pembangunan nasional yang dianggap belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. Berbagai program strategis yang menyerap anggaran besar dinilai perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran dan mampu menjawab persoalan mendasar seperti kemiskinan, pengangguran, kualitas layanan publik, hingga persoalan lingkungan hidup.Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Organisasi mahasiswa tersebut mengakui program tersebut memiliki tujuan yang baik dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun pelaksanaannya dinilai harus dibarengi dengan transparansi anggaran, sistem pengawasan yang kuat, serta ukuran keberhasilan yang jelas.Selain isu ekonomi, GMNI turut mengangkat persoalan demokrasi dan tata kelola pemerintahan. Mereka menilai terdapat gejala melemahnya supremasi sipil, menurunnya fungsi kontrol terhadap kekuasaan, serta masih adanya praktik birokrasi yang belum sepenuhnya profesional dan akuntabel.Melalui Mimbar Rakyat, GMNI DPC Sukabumi Raya menyatakan ingin membangun ruang diskusi publik sekaligus mengonsolidasikan gerakan mahasiswa dan masyarakat dalam mengawal kebijakan negara agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.
Dalam aksi tersebut, mereka menyampaikan sembilan tuntutan
kepada pemerintah. Di antaranya meminta stabilisasi nilai tukar rupiah dan
perlindungan daya beli masyarakat, menolak kebijakan yang berpotensi memicu
kenaikan harga BBM maupun kebutuhan pokok, menolak dwifungsi Polri dan
multifungsi TNI, serta mendesak reformasi birokrasi untuk memberantas praktik
korupsi, kolusi, dan nepotisme.Selain itu, GMNI juga meminta pemerintah
meningkatkan transparansi penggunaan APBN, mengevaluasi Program Makan Bergizi
Gratis dan proyek-proyek strategis nasional, memperkuat upaya penanggulangan
pengangguran, kemiskinan, serta krisis ekologis, hingga menjaga kualitas
demokrasi dan supremasi sipil.GMNI DPC Sukabumi Raya menegaskan bahwa kritik
yang disampaikan dalam aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masa
depan bangsa. Mereka berharap pemerintah dapat lebih responsif terhadap
berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat serta mengembalikan orientasi
pembangunan nasional pada cita-cita keadilan sosial sebagaimana diamanatkan
Pancasila dan UUD 1945.*(GUNTA)









