PATROLI SUKABUMI.CO.ID—Hari Sabtu
tanggal 28 Februari 2026 Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Sukabumi sejak
seminggu ini mengakibatkan serangkaian bencana alam di beberapa kecamatan.
Mulai dari rumah warga yang ambruk diterjang angin kencang hingga infrastruktur
vital yang terancam putus akibat luapan sungai.Bencana pergeseran tanah kembali
menguji ketahanan permukiman warga di wilayah selatan Jawa Barat. Sejak Minggu
(22/2/26) hingga sabtu dini hari (28/2/26). Hujan dengan intensitas sedang
hingga lebat memicu pergerakan tanah di Kampung Cijambe RT 005/RW 007, Desa
Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi.
Data sementara yang dihimpun Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Bantargadung mencatat sedikitnya 25 rumah terdampak dengan kategori kerusakan ringan, sedang, hingga berat. Empat kepala keluarga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat karena kondisi bangunan tidak lagi aman dihuni.
Informasi dari data P2BK Bantargadung, Sihabudin,
menjelaskan “Bahwa retakan pada dinding dan lantai rumah warga terus bertambah
luas selama masa pemantauan yang dilakukan sejak Senin hingga Sabtu pagi.Pemantauan
kami lakukan secara kontinyu dan berkala. Dari hari ke hari, retakan terlihat
semakin melebar. Kondisi ini tentu meningkatkan risiko apabila hujan kembali
turun dengan intensitas tinggi.Berdasarkan pendataan awal, 14 rumah mengalami
rusak ringan, enam rumah rusak sedang, dan lima rumah rusak berat. Total satu
RT terdampak langsung oleh pergerakan tanah tersebut.Kategori rusak berat
dialami antara lain oleh keluarga Diding S (63 th), Linda Farida (50 th),
Muhamad Buhori (25 th), dan Ade Elly Saputra (28 th). Mereka memilih mengungsi
demi keselamatan. Selain itu, satu pondok pesantren dengan 20 jiwa santri juga
masuk dalam daftar terdampak.”Ungkap Sihabudin kepada awak media.
Lebih jauh Sihabudin memaparkan “Secara keseluruhan,
puluhan jiwa kini hidup dalam kekhawatiran, terutama saat cuaca mendung masih
menyelimuti wilayah tersebut hingga laporan terakhir disampaikan.Faktor utama
pemicu kejadian adalah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang turun
terus-menerus selama hampir lima hari.Air yang meresap ke dalam tanah
menyebabkan lapisan bawah menjadi jenuh dan kehilangan daya ikat. Kondisi ini
memicu pergeseran horizontal yang berdampak langsung pada fondasi bangunan
warga.Curah hujan dalam durasi lama membuat tanah tidak stabil. Karena itu kami
merekomendasikan pengkajian tanah oleh tenaga ahli sebagai kebutuhan mendesak.Permintaan
kajian geologi menjadi krusial untuk menentukan apakah kawasan tersebut masih
layak dihuni atau memerlukan relokasi jangka panjang.Dalam penanganan awal,
P2BK Bantargadung telah berkoordinasi dengan perangkat desa dan Forum
Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Bantargadung. Warga juga diberikan
imbauan agar meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap tanda-tanda retakan
baru atau suara gemuruh dari dalam tanah.Kami terus siaga. Jika ada
perkembangan terbaru, akan segera kami laporkan kembali.”Pungkasnya. *(GUNTA)


.jpg)








