PATROLI SUKABUMI.CO.ID --
Hari Jum,at tanggal 24 Juli 2026. Dinamika internal DPD Partai
Golkar Kabupaten Sukabumi menjelang penentuan kepemimpinan baru terus menyedot
perhatian kader dan pengamat politik daerah. Mekanisme aklamasi yang kerap
menjadi pilihan kompromi politik dinilai sah secara aturan, namun pelaksanaannya
ditegaskan tidak boleh mengangkangi etika organisasi serta ruang gagasan para
kader potensial.
Permasalahan krusial ini mengemuka di tengah hangatnya
wacana penetapan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Sukabumi mendatang. Aklamasi
sebagai bentuk musyawarah mufakat diakui merupakan tradisi politik yang lazim,
tetapi harus dilalui melalui proses yang transparan, demokratis, dan memenuhi
kriteria ideal kepemimpinan.
Berdasarkan pantauan Patroli Sukabumi dan Grup Media SMSI
Sukabumi Raya. Retakan di partai Golkar takbisa
lagi tertutup.Di partai politik, kata “KAWAN” itu sering cuma jeda
napas—habis itu kembali jadi “LAWAN”. Namanya juga “DINAMIKA” hari ini rangkul,
besok sikut. Itulah yg terjadi saat ini di Partai Golkar menjelang perhelatan
siapa yg akan menjadi Ketua DPD Golkar kab sukabumi. Golkar Kab Sukabumi
menanti seorang RAKSA WIWAHA ( pelindung / penjaga pembebasan dari kesulitan )
Dinamika di tubuh Golkar Kab Sukabumi masih menyisakan
sejumlah persoalan yang belum sepenuhnya tuntas. Pergantian Plt kali ini
disebut bukan hanya soal habis masa jabatan, melainkan juga bagian dari upaya
meredam “Sumbatan” politik yang belum terurai.
Sementara itu Seorang sumber internal dari DPD Golkar Jawa
Barat yang jati dirinya meminta tidak tulis mengatakan “ Sebaiknya Partai
Golkar tidak memilih jalan pintas aklamasi. Biarkan mekanisme demokrasi
berjalan. Karena Golkar adalah salah satu partai yang masih menjaga kewarasan
berdemokrasi. Di internal partai Golkar secara formal pergantian ini memang
bersifat administratif. Namun secara substansi, ada dinamika yang belum
sepenuhnya selesai.Kalau dibilang murni karena masa jabatan habis, itu benar secara
aturan. Tapi di internal, ini sinyal bahwa masih ada hal-hal yang belum clear
di Golkar Sukabumi.”Ungkapnya.
Saya memantau adanya dugaan friksi /gesekan di tingkat elite maupun akar rumput. Nama-nama kader lokal seperti Asep Japar dan Budi Azhar Mutawali sebenarnya dinilai memiliki kapasitas. Namun dalam konteks saat ini, penunjukan figur eksternal justru dipilih sebagai opsi “Penengah”.Di Bawah Kendali Ketat publik kini menunggu, apakah tangan dingin mantan Wakil Bupati Cianjur ini mampu menyatukan kembali potongan-potongan yang sempat retak di tubuh Golkar Kab Sukabumi. Atau sebaliknya, dinamika yang selama ini tersimpan rapi justru akan semakin terbuka menjelang Musda.Yang jelas, di balik tampilan organisasi yang tetap terlihat solid dari luar, dinamika internal Golkar Kab Sukabumi tampaknya masih menyisakan pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya selesai.Sebagai wilayah dengan tensi politik yang cukup tinggi, Golkar Kab Sukabumi tampaknya tidak ingin mengambil risiko. Saya melihat kehadiran Plt dari luar daerah seolah menjadi strategi untuk meredam ego faksi yang dinilai masih tajam.Kalau kader lokal yang ditunjuk saat ini, dikhawatirkan gesekan justru makin kuat. Makanya figur seperti Kang Tubagus diturunkan. Tugasnya jelas merapikan ke dalam, menyatukan kembali, dan menyiapkan Musda.”Pungkasnya.* (GUNTA/SMSI )










