PATROLI SUKABUMI.CO.ID—Hari Jumat
tanggal, 10 Juli 2026. Ketegangan memuncak di Desa Nanggerang, Kecamatan
Cicurug, Kabupaten Sukabumi, saat puluhan warga dari berbagai RW mendatangi
kantor desa dalam aksi protes keras terkait krisis air bersih yang kian parah.
Salah satu warga Masyarakat Herman Gemol mengungkapkan “
Bahwa aksi yang didominasi kaum ibu ini bukan tanpa alasan. Mereka menuding
adanya dugaan pengalihan aliran air bersih yang seharusnya menjadi hak warga,
namun justru dialirkan ke area Perkebunan PT.MBI ( Mandiri Banana Indobesi ).
Dampaknya, warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti memasak, mencuci,
hingga mandi. Ini bukan lagi soal kekeringan, ini soal keadilan. Air kami
dipakai untuk kepentingan lain.”Teriak Herman dengan nada geram.
Lebih jauh Herman menegaskan “ Permasalahan Yang menjadi
sorotan, warga mengklaim telah mengantongi bukti fisik kuat, mulai dari jalur
pipa hingga dokumentasi aliran air yang diduga sengaja diarahkan ke perkebunan.
Bukti tersebut bahkan dibawa langsung saat aksi berlangsung, memperkuat dugaan
adanya penyalahgunaan kewenangan. Kalau dibiarkan, ini bukan
hanya krisis air, tapi krisis kepercayaan.
Pasalnya, sumber air dari Gunung Gede yang selama ini menjadi pasokan
utama melalui PAM swasta, dikenal tidak pernah mengalami kekeringan.Desa
Nanggerang saat ini krisis air. Padahal air PAM swasta dari Gunung Gede itu
tidak pernah habis. Tapi sekarang pengelolaannya melalui kepengurusan diduga
tidak berjalan dengan benar, meskipun warga tetap bayar iuran tiap bulan.
Warga
pun membandingkan dengan sistem sebelumnya yang dinilai lebih adil. Dulu air
itu digilir per jam, jadi semua kebagian. Sekarang malah tidak jelas, warga
justru kesulitan.Dasar ini tuntutan agar pengelolaan air bersih di Desa
Nanggerang segera dievaluasi secara menyeluruh dan dikembalikan pada prinsip
keadilan serta kepentingan publik ”Ungkapnya
Sementara itu Kepala Desa Nanggerang, Unang Suwandi mengungkapka “ Saya membantah tudingan tersebut. Saya menyatakan bahwa tidak ada pengalihan air sebagaimana yang dituduhkan warga. Tidak benar itu, tidak ada pengalihan air ke Perkebunan.Sumber mata air pegunungan yang dikelola oleh Desa. Ada Satgas dan penurusnya untuk memonitor. Saya meinilai warga tidak menberikan alesan yang substansi persoalan. Pasalnya, fakta di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan distribusi air yang nyata dirasakan masyarakat.Besok Saya akan mengerahkan pengurus dan pengelolan serta satgas Air untuk ke gunung kepusat sumber air .Untuk mengevaluasi memperbaiki saluran distribusi air. sistem distribusi air di desa sepenuhnya mengandalkan gravitasi alam sehingga sangat bergantung pada kondisi debit mata air di pegunungan.Memang ejak memasuki musim kemarau, tim teknis telah delapan kali naik ke gunung melakukan perbaikan. Namun berbagai kendala terus terjadi sehingga pasokan air belum stabil.Baru dua hari normal, kemudian terjadi kendala lagi. Karena itu besok tim kembali naik ke gunung untuk memaksimalkan perbaikan. “Ungkapnya.










