PATROLI SUKABUMI.CO.ID -- Hari
senin tanggal 29 Juni 2026. Di partai politik, kata “KAWAN” itu sering cuma jeda napas—habis itu kembali jadi
“LAWAN”. Namanya
juga “DINAMIKA” hari ini rangkul,
besok sikut. Itulah yg terjadi saat ini di Partai Golkar menjelang perhelatan
siapa yg akan menjadi KETUA DPD GOLKAR KAB SUKABUMI. GOLKAR
Kab Sukabumi menanti seorang RAKSA WIWAHA ( pelindung / penjaga pembebasan
dari kesulitan ) dari Kab Sukabumi yang
masih tidur panjang belum mau tampil kepermukaan
Teka-teki mengenai siapa yang akan menjadi nakhoda baru
Partai Golkar Kabupaten Sukabumi akhirnya terjawab. Melalui Surat Keputusan DPD
Partai Golkar Provinsi Jawa Barat Nomor: SKEP-05/GOLKAR/VI/2026, posisi
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD resmi diserahkan kepada H. Tubagus Mulyana
Syahrudin, menggantikan Dr. Deden Nasihin yang masa jabatannya telah berakhir.
Secara administratif, pergantian ini tampak sebagai proses
yang wajar. Namun di balik keputusan tersebut, muncul tanda tanya yang tak
sederhana. Untuk kedua kalinya, Golkar Sukabumi kembali “Dipercayakan”
kepada figur dari luar daerah—kali ini dari Cianjur. Sebuah pilihan yang, di
satu sisi menunjukkan kehati-hatian, namun di sisi lain memunculkan pertanyaan:
apakah benar tidak ada kader lokal yang dinilai cukup mampu menakhodai partai
sebesar Golkar di Sukabumi…?
Tubagus Mulyana sendiri bukan sosok sembarangan. Ia pernah
menjabat sebagai Wakil Bupati Cianjur periode 2021–2024 dan kini memimpin DPD
II Golkar Kabupaten Cianjur. Rekam jejaknya dinilai mumpuni. Namun tetap saja,
keputusan “Impor Kepemimpinan” ini memberi kesan bahwa persoalan di
internal Golkar Sukabumi bukan sekadar pergantian biasa.
Retakan yang Tak Lagi Tertutup
Rapi
Informasi yang dihimpun dari Grup Media SMSI Sukabumi Raya
menyebutkan “, Dinamika di tubuh Golkar Sukabumi masih menyisakan sejumlah
persoalan yang belum sepenuhnya tuntas. Pergantian Plt kali ini disebut bukan
hanya soal habis masa jabatan, melainkan juga bagian dari upaya meredam “Sumbatan”
politik yang belum terurai.Seorang sumber internal di DPD Golkar Jawa Barat
mengakui, secara formal pergantian ini memang bersifat administratif. Namun
secara substansi, ada dinamika yang belum sepenuhnya selesai.Kalau dibilang
murni karena masa jabatan habis, itu benar secara aturan. Tapi di internal, ini
sinyal bahwa masih ada hal-hal yang belum clear di Golkar Sukabumi.
Situasi ini semakin menguatkan dugaan adanya friksi di
tingkat elite maupun akar rumput. Nama-nama kader lokal seperti Asep Japar dan
Budi Azhar Mutawali sebenarnya dinilai memiliki kapasitas. Namun dalam konteks
saat ini, penunjukan figur eksternal justru dipilih sebagai opsi “Penengah”.Di
Bawah Kendali Ketat publik kini menunggu, apakah tangan dingin mantan Wakil
Bupati Cianjur ini mampu menyatukan kembali potongan-potongan yang sempat retak
di tubuh Golkar Sukabumi. Atau sebaliknya, dinamika yang selama ini tersimpan
rapi justru akan semakin terbuka menjelang Musda.
Yang jelas, di balik tampilan organisasi yang tetap
terlihat solid dari luar, dinamika internal Golkar Sukabumi tampaknya masih
menyisakan pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya selesai.Sebagai wilayah dengan
tensi politik yang cukup tinggi, Golkar Sukabumi tampaknya tidak ingin
mengambil risiko. Kehadiran Plt dari luar daerah seolah menjadi strategi untuk
meredam ego faksi yang dinilai masih tajam.Kalau kader lokal yang ditunjuk saat
ini, dikhawatirkan gesekan justru makin kuat. Makanya figur seperti Kang
Tubagus diturunkan. Tugasnya jelas: merapikan ke dalam, menyatukan kembali, dan
menyiapkan Musda.” Nara sumber SMSI Sukabumi Raya.
Hal ini juga diperkuat dengan isi Surat Keputusan yang
memberikan mandat besar sekaligus batasan ketat. Tubagus Mulyana tidak hanya
menjalankan roda organisasi, tetapi juga wajib mempersiapkan Musyawarah Daerah
(Musda) untuk memilih ketua definitif.Menariknya, dalam poin lain ditegaskan
bahwa keputusan strategis, khususnya terkait pengangkatan dan pemberhentian
pengurus kecamatan, harus mendapat persetujuan tertulis dari DPD Golkar Jawa
Barat. Sebuah mekanisme yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa kendali
organisasi kini berada dalam pengawasan penuh tingkat provinsi.Kursi Panas dan
Ujian Kepemimpinan dengan waktu yang terbatas menuju akhir masa bakti, posisi
yang kini diduduki Tubagus Mulyana bukan sekadar jabatan sementara. Ini adalah “Kursi
Panas” yang sarat kepentingan, dinamika, dan potensi konflik..* (GUNTA/SMSI
)








