terkini

Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Di Sukabumi Abu Vulkanik Berterbangan

Patroli Sukabumi
, Sabtu, September 05, 2026 WIB Last Updated 2026-09-06T03:19:55Z



PATROLI SUKABUMI.CO.ID—Hari Minggu tanggal 6 September 2026. Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkat sejak Jumat sampai Minggu pagi . Selain memicu lontaran lava pijar dan dentuman keras, erupsi ini melepaskan debu abu vulkanik tinggi yang pergerakannya terdeteksi hingga wilayah Sukabumi, Jawa Barat.Fenomena perpindahan material vulkanik lintas perairan ini dapat dijelaskan melalui dinamika atmosfer, struktur ketinggian kolom erupsi, serta tipe erupsi yang terjadi.


Peristiwa Hujan Abu Lintasi Selat Sunda ke Jawa Barat efek dari aktivitas erupsi terekam intensif mulai Jumat pukul 23.07 WIB hingga Minggu pukul 04.40 WIB. Berdasarkan pantauan citra satelit oleh komunitas relawan Info Gempa Dunia, pergerakan konsisten abu vulkanik ke arah tenggara menuju Sukabumi mulai teramati sejak pagi hari.


Terpantau awak media dampak dari Erupsi Gunung Anak Krakatau di  wilayah Kabupaten Sukabumi.  Debu vulkanik terdapat dibeberapa daerah,Kecamatan Cisolok,Kecamtan Cimaja,Kecamatan Palabuhan Ratu,Kecamatan Cibadak,Kecamatan Cicurug,Kecamatan Parungkuda,Kecamatan Cidahu dll.

 

Guna mengantisipasi dampak partikel mikro abu terhadap saluran pernapasan, masyarakat di wilayah Kabupten Sukabumi dihimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin menganalisis pergerakan abu menggunakan data citra Satelit Himawari-9.Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sebaran abu vulkanik terbagi menjadi dua klaster altitudo akibat perbedaan arah dan kecepatan angin di tiap lapisan atmosfer:

Klaster 1-Permukaan – 20.000 kaki (~6 km)-Tenggara hingga Selatan-Banten, Jawa Barat (termasuk Sukabumi), dan Selat Sunda.

Klaster 2-Permukaan – 50.000 kaki (~15 km)-Barat Daya hingga Barat Laut-Lampung, Bengkulu, dan Samudra Hindia.

 

Dinamika angin troposfer pada lapisan bawah (di bawah 20.000 kaki) membawa material abu halus mengarah ke tenggara, sehingga melintasi pesisir barat dan daratan Jawa Barat bagian selatan.Karakteristik Erupsi Strombolian dan Analisis berpotensi Tsunami.Dari kacamata vulkanologi, PVMBG mengonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi tipe Strombolian. Tipe erupsi Strombolian yang ditandai oleh letupan gas secara berkala di dalam saluran magma. Letupan ini melontarkan cairan magma relatif encer ke udara, menghasilkan “Air Mancur” lava pijar, bom vulkanik, lapili, serta pelepasan kolom abu.

 

Dalam keteranganya Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menegaskan “Bahwa erupsi kali ini tidak berpotensi memicu tsunami. Scrutiny ilmiah terhadap geometri Gunung Anak Krakatau menunjukkan beberapa faktor utama:

1. Volume Tubuh Belum Masif-Pasca-erupsi dan longsoran besar pada 22 Desember 2018, proses pembentukan kembali (regrowth) tubuh gunung api ini masih relatif kecil.

 

2.Risiko Longsoran Minim-Tidak ada indikasi keruntuhan skala besar pada dinding atau lereng gunung yang dapat memindahkan volume air laut secara mendadak.

 

Saya menghimbau kepada masyarakat warga Sukabumi,untuk menjaga Kesehatan.Sebab partikel abu vulkanik terdiri dari silika halus, kristal mineral, dan pecahan kaca gunung api (volcanic glass) yang dapat memicu iritasi mata, kulit, serta infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Masyarakat Sukabumi disarankan untuk terus memantau pembaruan resmi dari BMKG dan PVMBG, menutup penampungan air bersih, serta mengenakan masker filter standar (seperti N95 atau masker medis) saat berada di ruang terbuka.”Ungkapnya.*(GUNTA/SMSI)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Di Sukabumi Abu Vulkanik Berterbangan

Terkini